Inti pandangan egoisme adalah suatu tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Karena itu, satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Dalam bahasa Aristoteles, tujuan hidup dan tindakan setiap manusia adalah untuk mengejar kebahagiannya. Bagi Aristoteles kebahagiaan adalah perwujudan diri manusia dalam segala potensinya secara maksimal.
Sampai disini egoisme ini dibenarkan secara moral, karena kebahagiaan, kepentingan pribadi (dalam bentuk hidup, hak, keamanan dan sebagainya) secara moral dianggap baik dan pantas diupayakan dan dipertahankan. Adalah baik secara moral bahwa setiap orang mempertahankan hidupnya dan juga berusaha mengejar kebahagiaannya. Adalah baik secara moral bahwa orang tidak membiarkan dirinya sebagai manusia dijadikan sebagai alat belaka demi tujuan lain di luar dirinya.
Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis. Yaitu, kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yang vulgar. Lalu yang baik secara moral disamakan begitu saja dengan kesenangan atau kenikamatan. Karena itu, tindakan yang baik secara moral diartikan sebagai tindakan yang bertujuan mendatangkan kenikmatan dan menghindari penderitaan. Akibatnya dengan segala macam cara orang yang menganut etika ini berusaha untuk memperoleh kenikmatan bagi dirinya dan menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan.
Jadi, boleh dikatakan egoisme bisa baik secara moral tapi bisa juga tidak. Baik, kalau tujuan yang dimaksud adalah kebahagiaan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Aristoteles. Yaitu, kebahagiaan dalam arti yang luas, dalam arti kepenuhan hidup karena perwujudan seluruh potensi dalam dirinya. Bahkan termasuk di dalamnya adalah kebahagiaannya yang tercapai ketika orang lain dibahagiakan. Namun sebaliknya, sebagaimana telah disinggung, egoisme dapat menjadi negatif ketika yang ditekankan hanyalah kenikmatan lahiriah belaka apalagi kenikmatan lahiriah itu dicapai dengan mengorbankan hak dan kepentingan orang lain.
From : Keraf,Sonny. 1998. "Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya" Pustaka Filsafat. Jakarta
Lagi bikin tugas hukum dan etika bisnis, tau-tau nemu separuh paragraf ini. Worthed to share I think.. secara ni ya kok pikir-pikir selama ini gw egois banget ya ama lingkungan sekitar. Pokoknya ya pokoknya segalanya harus untuk kepentingan gw. Kalo ga ada sangkut-paut ama gw ya udah.. I never care about it hihihihi.. gileee.. IKA! please wake up.. u’re not live alone, being a human means being a socialist. So, U can be independent but u can’t deny that u need people around.
Talk about age, I’m 27old now!!! 
Beuh…ga krasa euy… Well, time always running. Ga kerasa tahun ini udah tahun terakhir gw di MM. Tanggal 5 Mei besok udah deadline buat ngumpulin thesis. Secara thesis gw masih 60% dari target, mungkin gw ngambil perpanjangan sebulan kali ya. Smoga aja bisa ikutan wisuda September ini… amiiiiin.
Walopun ga ada yang special, tapi hari senin tanggal 16 kemaren emang bikin banyak kejutan tersendiri. Ternyata masih banyak yah yg inget ultah gw.. hiks sampe terharu hiks Padahal di umur gw yg sedemikian tua kayak gini, ga banyak harapanlah untuk ngedapetin ucapan2 special kayak gitu, apalagi sampe interlokal jauh2 just for saying happy birthday to me. Anyway I really appreciate it guys.. hiks. I love you! (Promise, I will more care with all of u guys)
Last, just wanna say big thanks for Damay for the dinner hehe… Sungguh suatu pertemuan yang aneeh…